Program Bantuan Pangan Non-Tunai Mengacu Pada 6 T

11-07-2020 14:29:03


Redelong- Bener Meriah terdiri dari 10 Kecamatan dengan jumlah desa (kampung) mencapai 232  Kampung. Program Bantuan Pangan Non Tonai (BPNT)  lahir di Bener Meriah sejak Juni 2019 lalu,  yang merupakan transformasi dari program rastra atau raskin.

Menurut Koordinator daerah (Korda) BPNT dan Sembako Bener Meriah, Rizki Iwan Seber melalui rilisnya, Sabtu (11/7/2020) menyebutkan, BPNT awal mulanya digagas oleh  salah satu bidang Pemberdayaan Fakir Miskin  pada Kementerian Sosial. Lahirnya program bantuan itu bersifat tunai hanya mengacu pada 6T yakni 
Tepat Sasaran, Tepat Harga, Tepat Jumlah, Tepat Mutu, Tepat Waktu dan Tepat Administrasi. 

Lanjutnya, sejak awal saldo yang diisi atau di top up ke saldo ( Keluarga Penerima Manfaat ( KPM ) hanya sejumlah  Rp. 110.000 per KPM. Namun, program tersebut bukan dalam bentuk uang tunai yang diambil akan tetapi ditukar dengan barang berupa sembako. 

Di dalam Pedoman umum (Pedum) tahun  2019 saldo KPM hanya bisa di belanjakan/di tukar dengan beras dan telur. Masih kata Rizki,  tahun 2020 program BPNT berlanjut dan saldo KPM ditambah menjadi 150.000 per KPM dengan teknis dan mekanisme yang sama. Pada Maret  2020 saldo KPM di tambah menjadi 200.000 per KPM dengan mekanisme yang sama juga.

"Dengan cara dibelanjakan atau hanya bisa ditukarkan dengan barang sembako di e-warong terdekat yang telah disepakati antara petugas BRI dan pendamping bansos pangan," terangnya.

Ia menambahkan, sejak bulan Mei 2020, terbit juknis dan pedum (pedoman umum) mengenai masalah baru dalam pelaksanaan teknis dan komoditi dalam program  BPNT sembako, mulai dari saldo sampai nama program juga diganti yang mana saldo awal 110.00 seterusnya 150.000 dan saat ini 200.000 bukan lagi nama nya BPNT. Akan tetapi diganti menjadi program  Sembako atau sering di sebut BPNT sembako.

"Dalam program  sembako banyak yang bisa dibelanjakan, seperti protein dan nabati, beras, ikan, daging, telur, sayur sayuran, kacang kacangan serta buah-buahan," imbuhnya

Untuk di Bener Meriah  program BPNT sembako kenapa hanya beras dan telur saja. Hal itu dikira lebih efektif dan tidak banyak mengurangi hak KPM.

Bayangkan saja jika KPM diberikan sajian sembako beras, ikan, daging, buah, sayur, maka berapa banyak cuma yang mereka bawa. Apakah itu cukup untuk menopang kebutuhan mereka sedangkan KPM di Bener Meriah kebanyakan dalam 1 keluarga bisa mencapai  4-6 orang yang ada dalam 1 keluarga penerima. Hal itu yang membuat Pemerintah dalam hal itu  Dinas  Sosial lebih memprioritas ke beras dan telur karena itu dikira lebih efektif diberikan ke masyarakat.

Terkait komoditi BPNT sembako beras, itu  dipasok oleh Bulog mengacuk pada surat Menteri 01 MKS / K /07 / 2019 PERUM BULOG sebagai penyedia comodity beras,
sedangkan telur diisi oleh pihak ke 3 asli putra Bener Meriah.

Banyak yang bertanya kenapa harus Bulog  melakukan suplai beras, itu  karena kita merujuk pada aturan Menteri Sosial yang telah dibuat. Memang ada Kabupaten kota yang melakukan pasar bebas mungkin daerah mereka mampu mempertanggungjawabkan dengan hal demikian, namun tidak untuk Bener Meriah, kata Riski.

Begitu juga dengan telur kenapa harus di pihak ketigakan, bukan e-warong saja yang belanja. Hal itu jauh sebelumnya sudah terpikir dan  dikaji oleh Dinas Sosial. Jika kita berikan e-warong yang belanja sendiri apakah mereka mampu menyetarakan hak KPM dengan harga pasar. Tentu mereka tidak bisa karena hal itu kami sering  mendapatkan temuan dalam harga pasar.

Ada bariasi harga antara Kecamatan yang satu dengan yang lain. Sebab akses juga sangat berbeda semisal di Kecamatan Pintu Rime Gayo kita dapat menjumpa harga yang stabil, namun bagaimana dengan harga di Kecamatan Mesidah dan  Syiah Utama belum tentu  mereka mendapatkan hak yang sama karena jarak tempuh yang jauh.

"Antara Kecamatan Pintu Rime Gayo dan banda saja belum tentu seharga barangnya. Oleh sebab itu Dinsos Bener Meriah dan Tikor menyepakati mengunakan jasa suplayer baik untuk komoditi beras maupun telur. Hal itu demi kualitas dan kuantitas," papar Rizki

Teknis penyaluran  program BPNT sembako,  barang diberikan ke e-warong terlebih dahulu. Setelah e-warong selesai melakukan penyaluran baru e-warong menyelesaikan masalah administrasi mereka ke masing masing pihak terkait.

"Seperti beras, e-warong langsung mengirim ke Bulog sebagai mana hal itu telah disepakati sejak awal oleh Dinsos, Bulog, dan e-warong. Telur juga sedemikian.Diselesaikan ke pihak telur. E-warong hanya mendapatkan keuntungan dalam penyaluran tanpa rugi 1 rupiah pun. E-warong mendapatkan keuntungan dari penyaluran 5.300 per KPM"

Jika barang yang dipesan e-warong rusak maka di ganti sama pihak penyalur. Barang yang tidak habis diambil oleh penyalur yang jelas e-warung tidak dirugikan 1 rupiah pun, tutupnya (gn/fa/diskominfo-bm).